Kali ini mau mencoba merambah dunia lain…. Kalo ada kesalahan mohon dikoreksi ya kawan-kawan sekalian, soalnya ilmu saya belum tinggi-tinggi amat…. 🙂

Saya mau coba membahas tentang konsep gadai dalam Islam itu gimana sih? Kebetulan baru-baru ini dapet kuliah yang membahas ini, jadi yo uwees sekalian aja saya coba sharing buat semua 😀

Gadai dalam Islam disebut juga dengan Rahn, yang artinya adalah hak untuk menahan. Menahan apa sih? Nanti kita telusuri lebih lanjut ya. Ga ribet kok, masih lebih ribet nelusuri keberadaan Nazaruddin, orang kok antara ada dan tiada begitu…

Ehem…..

Baiklah… Landasan syariah dari gadai atau rahn ini bisa dilihat di surat Al-Baqarah ayat 283 ya, ayo dibuka dulu Al-Quran sama tafsirnya… Untuk haditsnya, yang saya tau ada hadits yang menyebutkan begini:

Abu urairah ra berkata “bahwa Rasulullah saw bersabda: “apabila ada ternak digadaikan, punggungnya boleh dinaiki (oleh yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaganya). Apabila ternak itu digadaikan, air susunya yang deras boleh diminum (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya. Kepada orang yang naik dan minum, ia harus mengeluarkan biaya (perawatan)nya” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i Bukhari kitab ar-rahn)

Gadai dalam Islam juga memiliki rukun, biar sah dan sesuai syariah Islam. Rukunnya yaitu:

1. Adanya shigat. Ini semacam ucapan ijab kabul antara kedua belah pihak.

2. Ada orang yang menggadaikan (rahin) dan yang menerima gadai (murtahin).

3. Ada barang jaminan (marhun). Yaitu barang yang digadaikan.

4. Ada utang (marhun bih). Yaitu sejumlah uang yang harus dikembalikan oleh rahin kepada murtahin.

Terus? Teknisnya gimana nih gadai? Gampang aja…. Misal Fulan A punya motor Supra (jangan tanya kenapa harus Supra), dia lagi butuh duit. Terus ada Fulan B, dia punya duit 5 juta. Fulan A menawarkan untuk menggadaikan motornya ke Fulan B, mereka sepakat nanti uang yang 5 juta akan dikembalikan 3 bulan mendatang. Ya udah, selesai deh….

Sekian………….

Tunggu……. Belum sekian…..

Terus gimana nasib si Supra selama dipegang si Fulan B..?? Fulan B adalah haram untuk menggunakan motor Supra tersebut. Iya haram..

IYA HARAM…!! Diulang biar meyakinkan…

Kecuali, Fulan B bersedia untuk mengeluarkan biaya untuk motor Supra tersebut. Maka haram itu berubah jadi boleh. Jadi misalnya pas Fulan B pake motor itu, eh ndilalah bannya mbledos kena paku. Ya harus diganti yang baru, minimal sama dengan yang rusak. Syukur-syukur kalo diganti ban tubeless…. Kalo Fulan B menolak untuk mengeluarkan biaya maka haram baginya untuk menggunakan motor Supra itu…….

Nah.. kalo misalnya si Fulan B bersedia mengeluarkan biaya untuk motor Supranya. terus dia ternyata make motor Supra itu untuk ngojek. Lha penghasilannya buat siapa? Dosen saya melontarkan pertanyaan yang mirip dengan ini, cuma pas beliau nanya, contohnya adalah sawah. jadi kalo yang digadaikan sawah, terus Fulan B menggarap sawah itu dan menghasilkan, keuntungannya buat siapa? Mirip kan pertanyaannya?

Waktu itu dalam kelas terbagi menjadi beberapa fraksi yang memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada 3 fraksi utama:

Fraksi pertama menjawab, ya keuntungannya buat Fulan B dong, kan dia udah mengeluarkan biaya untuk menggarap sawahnya, jadi ya untungnya buat dia…

Fraksi kedua menjawab, keuntungannya buat Fulan A dong, lha itu kan sebenarnya punya Fulan A. Fulan B kan cuma dititipin doang tho.

Fraksi ketiga ga ngejawab apa-apa. Mereka bengong, ada yang garuk-garuk kepala, cengengesan mainan ponsel, ada yang asyik ngupil. Bahkan ada juga yang lagi galau…

Fraksi pertama dan kedua mulai adu argumen, mereka perang urat syaraf.. Karena masing-masing merasa yang paling benar ga ada yang mau ngalah. Teriakan dimana-mana, bahkan mulai ada yang ngeluarin golok dari tasnya.

Situasi mencekam….!!!!!

Fraksi ketiga ga mau kalah. Tingkat kegalauan mereka semakin menjadi-jadi, bahkan ada yang nangis gugulingan gara-gara baru diputusin sama pacarnya..

MENCEKAM ABIS..!!

Anyway…. Melihat situasi yang udah ga kondusif.. Dosen saya langsung menengahi dengan bijak..

Beliau bilang begini: Joni…. kamu akan jadi orang yang blak-blakan………….

Saya : Pak, ada upil…. *nunjuk* …… lagian nama saya bukan Joni pak……..

krik,,,, krik,,,, krik,,,,,

Oke serius…. Beliau bilang begini. Yang bener kalo misalnya si Fulan B memanfaatkan sawahnya Fulan A dan mendapatkan keuntungan daripadanya. Maka keuntungan itu harus dibagi 2, tidak harus sama besar, tergantung kesepakatan aja misalnya 40 untuk Fulan A dan 60 untuk Fulan B, yang jelas keuntungannya ga boleh hanya dinikmati oleh satu pihak saja. Karena kalo cuma satu pihak yang menikmati berarti ada satu pihak yang dirugikan di situ, dan itu bukan Islam…

Oiya, kalo misalnya sampai dengan batas waktu yang disepakati, rahin tidak mampu membayar utangnya kepada murtahin. Maka murtahin tidak berhak untuk menjual barang jaminan (marhum). Kecuali, ada kesepakatan di antara kedua belah pihak bahwa barang jaminan boleh dijual untuk membayar utang..

Ingat, gadai atau rahn adalah hak untuk menahan. Bukan untuk memanfaatkan apalagi memindahkan hak milik barang jaminan.

Segitu aja deh ya, sekali lagi mohon koreksinya kalo saya ada salah..

Ciao….

Iklan