Heeyy, what up again guys? Still doing well I hope.. Kemarin saya janji akan share pengalaman ketika saya mengikuti event yang diselenggarakan oleh Komunitas Historia Indonesia. So, here it is, acaranya menyenangkan. Begitulah….

.

..


….

…..

Ya…. begitulah…….. Apa? Menyenangkan gimana maksudnya? Sulit diungkapkan dengan kata-kata deh, mending ikut langsung aja ya. Event ini rutin kok. Udah ya, capek saya..

Dadah…

Museum Nasution tampak depan



……..

……………..

Sebentar… rasanya ada yang ga beres….. Judul artikel ini harus diganti kayanya… Eh, tapi saya terlalu malas buat ganti judulnya, jadi sekalian aja tak ceritain deh ya kenapa judul artikel ini begini..

Salah satu tempat yang kami kunjungi di event tersebut adalah kediaman Jenderal Besar A.H. Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar 40 Jakarta Pusat, sekarang rumah tersebut udah jadi museum yang bisa dikunjungi oleh publik..

Ketika mengunjungi rumah tersebut, saya mendapatkan cerita dari guide kami mengenai kejadian tanggal 1 Oktober 1965. Ya betul, malam dimana Pasukan Cakrabirawa berusaha untuk membunuh Jenderal Besar A.H. Nasution tapi justru malah putrinya, Ade Irma Suryani yang menjadi korban..

Saya ingat dulu di buku sejarah disebutkan bahwa Ade Irma Suryani gugur sebagai tameng ayahandanya. Tentu saja karena saya dulu sangat cupu, imut dan menggemaskan, ya apa yang tertulis di buku sejarah itu yang saya percaya.. Heck, bahkan sampai dengan sebelum saya mengunjungi museum ini pun saya masih tetap imut, eh sorry, maksudnya saya masih percaya bahwa Ade Irma Suryani gugur sebagai tameng ayahandanya..

Namun semua itu berubah… ketika negara api menyerang…….. Nggak, salah… Semua itu berubah, after I took an arrow in the knee.. Wait, wait, that’s too much Skyrim for me… Maksud saya semua berubah ketika saya mendapatkan penjelasan dari tour guide kami..

Malam itu, dalam rumah ini terdapat 5 penghuni, Jenderal Besar A.H. Nasution beserta istrinya, Ade Irma Suryani, adik Pak Nas yang bernama Mardiah, kebetulan adik Pak Nas ini sedang menginap di sini dan menempati kamar Ade Irma, sehingga Ade Irma tidur bareng orang tuanya. Penghuni terakhir adalah ajudan Pak Nas yaitu Piere Tendean.

Pak Nas dan istrinya serta Ade Irma yang sedang tertidur lelap sedang berada di kamar utama ketika terdengar suara ribut dari halaman rumah. Mendengar suara ribut tersebut, Pak Nas meminta istrinya untuk melihat ada keributan apa di luar. Istri Pak Nas, yang bernama Johana Sunarti Nasution lalu melongok keluar kamar, dimana beliau melihat segerombolan Pasukan Cakrabirawa, sekarang disebut Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden) sedang berusaha memaksa masuk ke rumah. Melihat hal itu, Bu Nas bilang ke Pak Nas bahwa ada banyak Cakrabirawa di depan rumah, ketika Pak Nas hendak menemui mereka, Bu Nas menghalanginya karena Bu Nas punya firasat buruk.

Bu Nas lalu melongok keluar kamar lagi untuk yang kedua kalinya, Cakrabirawa sudah berhasil mendobrak pintu masuk utama dan langsung memberondongkan senapannya ke arah Bu Nas, fortunately he missed the target, walaupun begitu pelurunya berhasil menyerempet pelipis kanan istri Pak Nas ini. Kaget, Bu Nas langsung menutup pintu dan menguncinya, after quite a struggle against those Cakrabirawa yang berusaha memaksa masuk ke kamar utama.

Pasukan Cakrabirawa pun berusaha mendobrak kamar utama, mendengar keributan ini, Ade Irma pun bangun dari tidurnya dan menangis sambil memeluk kaki ibunya. Lalu dari pintu lain, muncul adik dari Pak Nas, yaitu Mardiah, yang penasaran ada keributan apa sih sebenarnya ini..

Bu Nas lalu menitipkan Ade Irma ke Mardiah dengan berpesan agar jangan membuka pintu itu (reference to pintu yang dikunci Bu Nas sebelumnya) karena banyak pembunuh yang jahat. Bu Nas lalu membantu Pak Nas untuk melarikan diri lewat pintu belakang. Mardiah lalu menggendong Ade Irma dan berusaha menenangkannya, masih di kamar utama, disertai suara teriakan Cakrabirawa di depan kamar utama. Menurut tour guide kami, adik Pak Nas ini penasaran, berjalanlah ia menuju pintu kamar utama, sembari masih menggendong Ade Irma di depannya, dan dibukalah pintu kamar utama tersebut.

Salah satu diorama di Museum Nasution


Pasukan Cakrabirawa yang berada tepat di depan kamar utama tanpa ampun, karena kesal daritadi berusaha dobrak pintu gak bisa-bisa, langsung memberondongkan senjatanya..

Hasilnya, 6 peluru menembus Ade Irma Suryani (instantly killed her, I assume), Mardiah sendiri tertembus 2 peluru di punggung tangan kanannya.

Okay, saat ini saya tau apa yang ada di pikiran pembaca sekalian.. Tapi mari kita pendam keinginan untuk melakukan facepalm dalam-dalam karena walau bagaimana pun juga beliau adalah adik kandung Pak Nas.

Melihat hal ini Cakrabirawa ragu untuk masuk ke dalam kamar utama, mereka hanya menunggu di depan kamar utama. Mardiah lalu keluar dari pintu belakang lalu menyerahkan Ade Irma ke gendongan Bu Nas. By the way, Pak Nas sudah berhasil kabur dengan cara memanjat tembok sebelah rumahnya.

Bu Nas, berlumuran darah Ade Irma di gendongannya, lalu berjalan menuju ruang keluarga dimana dia disambut oleh 5 orang Cakrabirawa yang menodongkan senjatanya sambil menanyakan dimana sebenarnya Jenderal Besar Nasution berada.

Bu Nas menjawab bahwa Pak Nas sudah beberapa hari ini tidak berada di rumah, dan bahwa kalian Cakrabirawa datang ke rumah ini hanya untuk membunuh anakku..

Well… I think that covers kenapa artikel ini diberi judul seperti itu..

Selama ini yang saya tau Ade Irma gugur menjadi tameng ayahandanya, dimana dalam imajinasi saya, Ade Irma dengan gagah berani bertarung dengan segerombolan pasukan Cakrabirawa dengan keahlian kungfu di luar akal sehat, membunuh beberapa di antaranya sebelum akhirnya gugur karena tertembus peluru dari salah satu Pasukan Cakrabirawa…….. Okay, that’s too much imagination, I know.. Tapi paling nggak kita punya pemikiran dimana Ade Irma berusaha melindungi ayahandanya dari berondongan peluru Cakrabirawa tersebut. Fakta ternyata tidak menyatakan demikian..

Tapi, tentu saja saya tidak akan bilang bahwa Ade Irma bukan pahlawan, she was a hero, actually she is still a hero. She did not die for nothing. Saya juga tidak akan menyalahkan buku sejarah, karena mereka juga benar kok, kenapa? Buku-buku dan banyak sumber lainnya, termasuk Wikipedia yang menyebutkan Ade Irma gugur menjadi tameng ayahandanya mungkin menjadikan tulisan di monumen Ade Irma Suryani yang tertulis: “anak saja jang tertjinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ajahmu.”

See… that explains everything…..

Dalam perspektif lain, penggunaan kata-kata heroik seperti ini menjadi propaganda bagi pemerintah  untuk menunjukkan kebrutalan PKI dan pada akhirnya memberikan efek negatif bagi citra PKI di masa itu..

And that’s all folks…

Dalam kesempatan berikutnya akan saya ceritakan penggalan pengalaman saya yang lain ketika mengikuti event Komunitas Historia Indonesia ini. Try to keep up with me, aye!

Ciao..

Iklan